Lidya : (hanya diam tanpa berucap).
Dio : bagaimana? apa kamu memiliki perasaan yang sama terhadapku? (penuh harap).
Lidya : apa kamu yakin dengan perasaanmu? (menatap dalam tanpa berkedip).
Dio : aku yakin dan sangat yakin. aku benar-benar mencintaimu Lidya! (meyakinkan).
Lidya : jujur, aku juga memiliki perasaan yang sama terhadapmu! (sembari tersenyum).
Dio : benarkah? apa itu artinya kamu juga mencintaiku? (tersenyum bahagia).
Lidya : benar, aku mencintaimu! (tersenyum sembari menunduk malu).
Kemudian aku bangkit dari tempat dudukku. Dan melangkah menghampiri gadis itu yang tengah duduk. Aku berdiri mematung sembari menatap matanya dalam-dalam. Dan gadis itu juga menatap mataku, kami saling beradu pandang. Lalu tanpa bicara, aku langsung mengecup mesra bibirnya. Setelah kulakukan itu, gadis itu mematung tanpa mampu berucap apa-apa dan terlihat rona pipinya memerah begitu juga denganku. Namun tak berapa lama, dia pun tersipu malu dan terlihat salah tingkah. Ah malam ini benar-benar moment yang sangat indah dalam hidupku.
Ditengah perjalanan menuju pulang, aku mengutarakan semua isi hatiku terhadapnya. Mulai dari perasaanku sejak pertama aku melihatnya hingga mengenalnya. Gadis itu hanya tersenyum dan raut wajahnya tampak bahagia aku mengutarakan itu semua. Sambil sesekali kugenggam mesra tangannya.
Diperjalanan yang sepi, tiba-tiba ada seorang lelaki seperti preman menghadang mobilku. Aku pun spontan rem mendadak. Ekspresi terkejut dan heran terpancar di wajah kami.
Dio : apa-apaan ini!! (sembari keluar mobil).
Aku pun menghampiri lelaki itu dengan perasaan marah.
Dio : apa maksudmu berengsek!! (sambil mencengkram kerah baju lelaki itu).
Preman : hahaha... santai saja dulu tidak usah emosi begitu.
Lidya yang tampak gusar di dalam mobil seketika itu keluar mobil.
Dio : tidak usah bermain-main denganku!! (menatap tajam lelaki itu).
Preman : serahkan kunci mobilmu!! (menatap bengis).
Dio : hahaha... apa kamu ingin merampasku? (menatap dengan penuh emosi).
Preman : tidak usah banyak bicara!! ayo serahkan sekarang juga jika masih ingin hidup!!
Dio : (hanya tertawa dengan sorot mata tajam).
Preman : ah si berengsek ini!! (mendorong tubuh Dio dan berjalan menghampiri Lidya).
Lidya yang melihat itu tampak takut dan perlahan berjalan mundur. Lalu dengan sigap lelaki itu menarik tubuhnya dan mengacungkan pisau dilehernya.
Preman : bukankah gadis ini berharga untukmu? (tersenyum sinis sembari menatap tajam ke arah Dio).
Aku yang melihat itu langsung berjalan ke arah mobil dan mencabut kunci mobilku.
Dio : kamu ingin ini? (memperlihatkan kunci mobil pada lelaki itu).
Preman : yah benar!! cepat berikan kunci itu padaku!!
Dio : lepaskan gadisku!!
Preman : jika aku melepaskan gadis ini apa kamu akan memberikan kunci itu padaku?
Dio : yah!! (penuh amarah).
Perlahan lelaki itu mulai melepaskan gadis itu. Dan seketika itu aku langsung melempar kunci mobilku ke jalanan. Lalu lelaki itu berjalan menuju tempat dimana kunci itu dilempar. Namun, dengan sigap aku langsung melayangkan tendangan pada tubuh lelaki itu hingga terpental.
Kemudian kuambil batu besar yang ada dipinggir jalan lalu aku berjalan menghampiri lelaki itu yang masih terkapar. Seketika itu kuhantamkan batu besar itu ke wajah lelaki itu hingga dia mengerang kesakitan. Kuhantamkan batu itu berulangkali hingga wajahnya hancur tak berbentuk. Darah pun bercipratan kemana-mana, sehingga wajah dan pakaianku dilumuri oleh darah.
Huuu... seperti biasa aku sangat mengagumi cairan merah itu dan terhirup nikmat dihidungku. Tapi aku sadar, aku tak mungkin menghisap dan menjilati darah itu karna aku sedang bersama dengan kekasihku sekarang.
Lidya yang melihat pemandangan mengerikan itu tampak begitu tegang seperti tak mampu bergerak dan berucap. Gadis itu hanya memandang kaku tak berkedip seperti patung.
Aku lalu bangkit dari tempatku berpijak dan berjalan menghampiri gadis itu yang wajahnya tampak pucat pasi dan ketakutan.
Lidya : Di..di..o, ka..ka..mu mem..bunuhnya (ekspresi tegang).
Dio : (hanya menatap gadis itu tanpa berucap).
Kemudian aku melangkah lebih dekat pada gadis itu dengan tatapan tajam. Dan membisikkan sesuatu ditelinganya.
Dio : lupakan semua ini, anggap kamu tidak pernah melihatnya! sekarang masuklah kedalam mobil (bisiknya pada gadis itu).
Gadis itu hanya menurut dan masuk kedalam mobil. Lalu aku pun melangkahkan kakiku memasuki mobil. Di dalam mobil, kuambil tisu untuk menghilangkan darah yang ada di wajahku. Gadis itu hanya diam mematung dan menatap lurus ke depan tanpa berkedip. Kemudian tanpa bicara aku pun melajukan mobilku.
Ditengah perjalanan, tidak ada satu pun obrolan yang diutarakan. Kami hanya diam. Dan gadis itu masih tampak mematung.
Lidya : hentikan mobilnya! (bentaknya tiba-tiba tanpa menoleh).
Dio : (hanya diam dan tak menghiraukan).
Lidya : kubilang hentikan mobilnya!! (terlihat wajahnya yang dipenuhi amarah).
Lalu tanpa bicara aku langsung menepikan mobilku. Kemudian gadis itu membuka pintu mobil dan keluar. Lalu berjalan cepat menuju ke keramaian orang seperti orang ketakutan.
"Sial! mengapa aku tak bisa mengontrol kebiasaan burukku didepan gadis itu! sekarang aku harus merasakan keadaan yang tidak mengenakkan seperti ini" gumamku. Aku terus memandangi gadis itu berjalan hingga tidak terlihat lagi.
"Ah apa yang akan kulakukan pada gadis itu?" gumamku sembari tersenyum kecut.
Dio : bagaimana? apa kamu memiliki perasaan yang sama terhadapku? (penuh harap).
Lidya : apa kamu yakin dengan perasaanmu? (menatap dalam tanpa berkedip).
Dio : aku yakin dan sangat yakin. aku benar-benar mencintaimu Lidya! (meyakinkan).
Lidya : jujur, aku juga memiliki perasaan yang sama terhadapmu! (sembari tersenyum).
Dio : benarkah? apa itu artinya kamu juga mencintaiku? (tersenyum bahagia).
Lidya : benar, aku mencintaimu! (tersenyum sembari menunduk malu).
Kemudian aku bangkit dari tempat dudukku. Dan melangkah menghampiri gadis itu yang tengah duduk. Aku berdiri mematung sembari menatap matanya dalam-dalam. Dan gadis itu juga menatap mataku, kami saling beradu pandang. Lalu tanpa bicara, aku langsung mengecup mesra bibirnya. Setelah kulakukan itu, gadis itu mematung tanpa mampu berucap apa-apa dan terlihat rona pipinya memerah begitu juga denganku. Namun tak berapa lama, dia pun tersipu malu dan terlihat salah tingkah. Ah malam ini benar-benar moment yang sangat indah dalam hidupku.
Ditengah perjalanan menuju pulang, aku mengutarakan semua isi hatiku terhadapnya. Mulai dari perasaanku sejak pertama aku melihatnya hingga mengenalnya. Gadis itu hanya tersenyum dan raut wajahnya tampak bahagia aku mengutarakan itu semua. Sambil sesekali kugenggam mesra tangannya.
Diperjalanan yang sepi, tiba-tiba ada seorang lelaki seperti preman menghadang mobilku. Aku pun spontan rem mendadak. Ekspresi terkejut dan heran terpancar di wajah kami.
Dio : apa-apaan ini!! (sembari keluar mobil).
Aku pun menghampiri lelaki itu dengan perasaan marah.
Dio : apa maksudmu berengsek!! (sambil mencengkram kerah baju lelaki itu).
Preman : hahaha... santai saja dulu tidak usah emosi begitu.
Lidya yang tampak gusar di dalam mobil seketika itu keluar mobil.
Dio : tidak usah bermain-main denganku!! (menatap tajam lelaki itu).
Preman : serahkan kunci mobilmu!! (menatap bengis).
Dio : hahaha... apa kamu ingin merampasku? (menatap dengan penuh emosi).
Preman : tidak usah banyak bicara!! ayo serahkan sekarang juga jika masih ingin hidup!!
Dio : (hanya tertawa dengan sorot mata tajam).
Preman : ah si berengsek ini!! (mendorong tubuh Dio dan berjalan menghampiri Lidya).
Lidya yang melihat itu tampak takut dan perlahan berjalan mundur. Lalu dengan sigap lelaki itu menarik tubuhnya dan mengacungkan pisau dilehernya.
Preman : bukankah gadis ini berharga untukmu? (tersenyum sinis sembari menatap tajam ke arah Dio).
Aku yang melihat itu langsung berjalan ke arah mobil dan mencabut kunci mobilku.
Dio : kamu ingin ini? (memperlihatkan kunci mobil pada lelaki itu).
Preman : yah benar!! cepat berikan kunci itu padaku!!
Dio : lepaskan gadisku!!
Preman : jika aku melepaskan gadis ini apa kamu akan memberikan kunci itu padaku?
Dio : yah!! (penuh amarah).
Perlahan lelaki itu mulai melepaskan gadis itu. Dan seketika itu aku langsung melempar kunci mobilku ke jalanan. Lalu lelaki itu berjalan menuju tempat dimana kunci itu dilempar. Namun, dengan sigap aku langsung melayangkan tendangan pada tubuh lelaki itu hingga terpental.
Kemudian kuambil batu besar yang ada dipinggir jalan lalu aku berjalan menghampiri lelaki itu yang masih terkapar. Seketika itu kuhantamkan batu besar itu ke wajah lelaki itu hingga dia mengerang kesakitan. Kuhantamkan batu itu berulangkali hingga wajahnya hancur tak berbentuk. Darah pun bercipratan kemana-mana, sehingga wajah dan pakaianku dilumuri oleh darah.
Huuu... seperti biasa aku sangat mengagumi cairan merah itu dan terhirup nikmat dihidungku. Tapi aku sadar, aku tak mungkin menghisap dan menjilati darah itu karna aku sedang bersama dengan kekasihku sekarang.
Lidya yang melihat pemandangan mengerikan itu tampak begitu tegang seperti tak mampu bergerak dan berucap. Gadis itu hanya memandang kaku tak berkedip seperti patung.
Aku lalu bangkit dari tempatku berpijak dan berjalan menghampiri gadis itu yang wajahnya tampak pucat pasi dan ketakutan.
Lidya : Di..di..o, ka..ka..mu mem..bunuhnya (ekspresi tegang).
Dio : (hanya menatap gadis itu tanpa berucap).
Kemudian aku melangkah lebih dekat pada gadis itu dengan tatapan tajam. Dan membisikkan sesuatu ditelinganya.
Dio : lupakan semua ini, anggap kamu tidak pernah melihatnya! sekarang masuklah kedalam mobil (bisiknya pada gadis itu).
Gadis itu hanya menurut dan masuk kedalam mobil. Lalu aku pun melangkahkan kakiku memasuki mobil. Di dalam mobil, kuambil tisu untuk menghilangkan darah yang ada di wajahku. Gadis itu hanya diam mematung dan menatap lurus ke depan tanpa berkedip. Kemudian tanpa bicara aku pun melajukan mobilku.
Ditengah perjalanan, tidak ada satu pun obrolan yang diutarakan. Kami hanya diam. Dan gadis itu masih tampak mematung.
Lidya : hentikan mobilnya! (bentaknya tiba-tiba tanpa menoleh).
Dio : (hanya diam dan tak menghiraukan).
Lidya : kubilang hentikan mobilnya!! (terlihat wajahnya yang dipenuhi amarah).
Lalu tanpa bicara aku langsung menepikan mobilku. Kemudian gadis itu membuka pintu mobil dan keluar. Lalu berjalan cepat menuju ke keramaian orang seperti orang ketakutan.
"Sial! mengapa aku tak bisa mengontrol kebiasaan burukku didepan gadis itu! sekarang aku harus merasakan keadaan yang tidak mengenakkan seperti ini" gumamku. Aku terus memandangi gadis itu berjalan hingga tidak terlihat lagi.
"Ah apa yang akan kulakukan pada gadis itu?" gumamku sembari tersenyum kecut.
BERSAMBUNG
Penikmat Darah Part 9
4/
5
Oleh
CERITA HANTU
