Cerita Misteri Sahabat Dari Bukit

Nama Gue Candra Kusuma, Lebih Akrab dipanggil Candra. Gue Anak  Semata Wayang Wajar Kan kalau Papa Mama gue sayang banget sama gue. Alarm gue berbunyi Tandanya Gue harus bangun dan siap2 Buat berangkat sekolah dan nggak lupa sama tas besar yang udah gue siappin tadi malem yang isinya perlengkapan buat mendaki hari ini, karna ada acara dari sekolah buat mendaki bareng seangkatan gue.
Cerita Misteri Sahabat Dari Bukit

Mama : Kok Sekolah Bawa tas gede banget (Sedang mengoles roti dengan selai).
Gue : Ya ampun...Sumpah ma candra lupa ngasih tau mama papa kalau hari ini temen" seangkatan candra bakalan mendaki (Sambil Mengunyah Roti).
Mama : Ni anak...Belum Juga Tua udah rada lupa(Ikutan memakan Roti).
Papa : Jadi kamu Hari ini kesekolah diantar bang Tarjo kan? (sibuk main ponsel).

Ohiya guyss, bang Tarjo itu supir kepercayaan bokap gue, istrinya bu Ina yang jadi pembantu gue dia kerja sama bokap nyokap gue dari gue masih di dalam perut dan sampai gue kelas x11 sekarang dia masih kerja di sini kebayangkan lamanya?

Gue : Iya pah diantar bang Tarjo aja, buruan udah telat ni (memeriksa barang di dalam tas).
Mama : Kalau kamu sama bang tarjo, papa kamu ke kantor sama siapa?(menatap papaku)
Papa : Nggk papa ma, papa bawa mobil sendiri aja (tak memalingkan wajahnya dari hp)
Aku:Bang tarjo...Bang buruan aku udah telat ni(sedikit teriak)
Bang tarjo : Iya den ayo..(berlari kecil keluar toilet).
Aku : Ma..Pa..aku pergi ya (Mencium tangan mereka)
Mama : iya hati" kamu nginep Berapa hari d bukit? (mengelus kepalaku).
Gue : Cuman Semalem doangkok ma, dahh aku pergi (berjalan keluar pintu).

Sesampainya di sekolah.
Edo : tuh si Candra (Menunjuk gue)
Bagas : Gila lu can..Lama banget bis udah mau berangkat ni (menepuk pundak gue).
Gue : yaelah lu kaya nggk kenal nyokap gue aja, yuk naik (meninggalkan mereka).
Edo : Dasar anak mami (Tertawa kecil dan menyusul gue).
Gue : Sini duduk di sini aja (Menunjuk tempat duduk kosong di sebelah gue).
Tari : Eh iya" (Tersenyum dan duduk di sebelah gue).

Tari itu wanita yang gue incar dari kelas X guys, gue kagum sama dia, dia cantik baik dan juga pinter bisa di bilang dia murid yang bikin pria satu sekolah berharap banget jadi pacar dia termasuk gue guys, kata temen" sih dia juga naksir sama gue tapi gue nggak pernah berani  nembak dia guys, takut di tolak belum tentu kan yang d bilang temen2 itu bener.

Sepanjang perjalanan temen2 bercanda bersuka ria dan bernyanyi smpai2 gue tertidur.

Pak khairul : Turun2 sudah sampai (mengetuk" bis).

Pak khairul kepala sekolah gue, karna suara pak khairul gue jadi kebangun.

Gue : eh udah sampai ya..(mengelus mata).
Tari : Udah can, lu tidur nya nyenyak banget (mengangkut tas nya).
Gue : eh iya ni tau" udah nyampai (berdiri dari tempat duduk).

Semua orang turun dari bis semua temen" berkumpul membuat barisan tak terkecuali gue, gue seneng banget guys karna ini pengalaman pertamakalinya gue ngedaki, udah nggak sabar ngerasain dinginnya besok subuh bangun di atas bukit dengan pemandangan yang pastinya indah banget.

Kami pun memulai doa menurut kepercayaan masing2
Pak khairul : jangan ada Yang terpisah ya.. Jangan ada yang nyoba jalur lain..Ayo kita mulai (memulai langkahnya sebagai pemimpin rombongan). Step demi step kami lewati, posko demi posko kami lewati tanpa ada masalah apapun.
Pak khairul : Kita istirahat sebentar disini (menghentikan langkahnya).

Semua anak2 duduk dan membuka perbekalannya, Gue memilih bersandar di sebuah pohon besar dan meminum air sambil sesekali memandang kiri kanan, Hingga pandangan gue tertuju pada sesosok wanita seusia gue, berambut sebahu, memikul tas seperti gue dan temen2, sepertinya dia juga pendaki tapi bukan dari rombongan gue soalnya gue sama sekali nggak kenal dia, karna rasa penasaran gue nyamperin dia dan ninggalin rombongan gue, dia melihat ke arah gue dan ketika gue ngedekat dia seakan ingin pergi.

Gue : Tunggu..(Menghentikan langkahnya).
Dia : Iya kenapa? (menoleh ke arah gue).
Gue : GilaAnjir.. Cantik Banget (Dalem Hati) Oh iya kamu Pendaki juga? kok sendirian rombongan kamu kemana? (Sesekali Menggaruk kepala).
Dia : Nama gue laras, iya gue juga pendaki, rombongan gue masih d bawah gue duluan karna pengen nyampai lebih cepat (Sedikit tersenyum).
Gue : Nama gue candra, itu rombongan gue (menunjuk ke arah tempat istirahat tadi).

Gue terkejut saat gue nunjuk ke arah rombongan gue mereka udah nggak ada.
Gue : Hah gue di tinggalin, gimana sih pak khairul memangnya nggak ngitung apa rombongannya kurang satu (kesal).
Laras : kamu bareng Aku aja (Memegang pundakku).
Gue : Memangnya kamu tau jalan ke atas? (menurunkan tas dari pundakku)
Laras : Tau kok tenang aja..kamu kepingin Bangetkan nyampai ke atas, ayo (mulai melangkah).
Gue : Kok dia bisa tau (Dalam hati) yaudah deh iya2 (menaikkan tas kepundak dan menyusul).

Gue pun memutuskan untuk ngedaki bareng dia ke atas dan benar saja sekitar 1 jam lebih kami sampai di atas, Sesampainya di atas Gue kembali terkejut karna tak melihat satupun dari rombongan gue disini.

Gue : loh kok..seharusnya merekakan udah nyampai duluan kok malah nggak ada (menurunkan tas).
Laras : Mungkin mereka lewat jalur lain makanya agak lama (Juga menurunkan tas).
Gue : Iya mungkin, Nggak nyangka banget akhirnya bisa sampai kesini gue seneng banget.

Gue dan Laraspun Membangun tenda masing2 dan gue berinisiatif ngumpulin kayu bakar agar nanti Rombongn Gue Nggak perlu Repot Nyari Kayu Bakar. Tanpa gue sadari Matahari hampir terbenam dan Rombongan Gue dan Laras belum juga nyampai di atas.

Gue : Kok rombongan gue belum nyampai juga ya ini udah lama banget (Menghidupkan api unggun).
Laras : Mungkin masih mendaki (Keluar dari tendanya).
Gue : Nggk mungkin, ini udah malem lagian dari bawah kesini kan nggak sampai seharian, Lagian kita juga sudah sampai dari sore d sini (menambah kayu d api unggun).
Laras : Mungkin mereka turun lagi nggak jadi ke atas (duduk d dpn gue).
Gue : Astaga ras, Muka kamu pucet banget kamu sakit? (memandang wajahnya).
Laras : Nggak kok mungkin cumn kedinginan (Mengusap badannya).
Gue : Ni pakai jaket gue (Memakaikan jaket).

Tanpa sengaja tangan gue nyenggol tangan dia.
Gue : Iya ras,Kayanya kamu memang kedinginan buktinya tangan kamu aja dingin kaya es (menghangtkaan tangan).
Laras : Iya ni..dingin banget (Semakin erat memeluk dengkulnya).
Gue : Oh iya, rombongan kamu juga kok nggak nyampai" di sini (menatapnya).
Laras : Mereka turun lagi mungkin seperti rombongan kamu, ngapain juga mikirin mereka yang terpentingkan, keinginan kamu buat sampai disini kan sudh terpenuhi (bangkit berdiri).
Gue : iya sihh..tapi..Ah sudahlah (sedikit menggaruk kepala).
Laras : Yuk...(Menarik tanganku).

Tanpa jawaban apapun dari mulut gue dia langsung saja menarik gue menuju ke arah batu besar.
Laras : Ayo naik (Mulai memanjat batu itu).

Tak ada sepatah kata pun dari mulut gue, gue hanya mengikuti apa yang gadis itu lakukan.
Gue : Ngapain sih kita pakek manjat2 segala ( membaringkan badan d atas batu).
Laras : Kalau kamu nggak mau, knp ikut? (berbaring d sebelahku).
Gue : Mau kok, Gue malah seneng bisa lihat bintang dari atas sini (Menunjuk bintang) Makasih ya udah bawa gue sampai ke atas (Memandang wajahnya).
Laras : Santai aja..(Menatap langit).
Gue : eh iya gue baru inget (Segera duduk dan mengeluarkan spidol).
Laras : Buat apaan? (Memandang gue).
Gue tak menjawab pertanyaannya,lalu segera menulis nama gue dan dia di atas batu.
Gue : Buat kenang2ngan (Menutup spidol).
Laras : Ada2aja (Kembali menatap langit).
Gue : Habis ini kamu mau mendaki dimana? (kembali berbaring di sebelahnya).
Laras : Nggak, aku nggk mau mendaki lagi, Aku kapok ditinggalin rombongan untung aja ada kamu, jadi aku ada temen (tetap menatap langit).
Gue : Hmm..Udah malem ayo tidur Masuk tenda (menarik tangannya).

Kami pun tidur di tenda masing2, Sampai Ketika gue terbangun. Ketika mendengar suara tangis wanita, suara ini tak asing ditelinga gue, Gue berusaha mengingat suara siapa itu, gue ingat itu suara nyokap gue, gue buka mata gue dengan perlahan, gue kembali mendengar suara nyokap gue berteriak memanggil dokter, tenda biru yang gue lihat saat menjelang tidur kini berubah menjadi ruangan besar saat gue terbangun.

Dokter : Alhamdulilah bu, anak ibu sudah sadar dari komanya (dokter menghadap nyokap gue).

Kata2 dari dokter membuat gue semakin bingung apa yang terjadi sebenarnya.

Mama : Makasih dokter.

Dan dokter pun meninggalkan ruanggn itu, belum sempat gue mengucapkan satu katapun Edo, Bagas dan Tari Masuk ke ruangan itu.

Tari : Bagaimana tante, bagaimana keadaan candra.
Mama : Alhmdulilah masa komanya sudah lewat.
Gue : Apaan sih ma..Siapa yang koma? (Bangkit duduk).
Mama : Pelan2 nak kamu masih lemah (membantu gue duduk)
Bagas : Yaelah can, lu bneran nggk ingat apapun (mentap wajahku).
Gue : Setau gue, gue lagi tidur d dalem tenda, di atas bukit yang kita daki, gue kaget pas bangun udah ada di sini.
Edo : Atas bukit? Lu mimpi atau ngayal kita aja nggak sampai keatas (tertawa kecil).
Suster : permisi bu, bisa langsung lunasi adminitrasinya (membuka pintu).
Mama : Iya sus (pergi meninggalkan kami).
Gue : Kalian memang nggak nympai atas tapi gue nyampai (Memandang Edo).
Tari : Gimana Lu mau nyampai atas can, lu aja langsung di bawa kerumah sakit (Memandang gue).
Gue : Apaan sih maksud kalian, Gue memang nyampai ke atas nggak sama kalian tapi sama Laras (Memandang mereka).
Bagas : Laras? maksud lu Wanita yang berambut sebahu itu? (Mentap gue).
Gue : Iya gas, Kok lu kenal dia (menatap bagas).
Edo : Lu serius can, mendaki bareng laras (Mendekat ke bagas).
Tari : Lu bercanda kan can? (Menatap gue).
Gue : Apaan sih kalian Gue Serius, memangnya kenapa sih (memandang mereka).
Edo : lu ingat waktu kita istirahat, saat lu bersandar di pohon besar? (memandang gue).
Gue : iya ingat memangnya kenapa? (penuh kebingungan).
Bagas : Saat kita mau ngelanjutin perjalanan, saat lu mau berdiri lu kepeleset dan jatuh kejurang belakang pohon itu (menatap gue).
Tari : Siapapun akan mati kalau jatuh dari jurang setinggi itu dan elu hanya koma (menatapgue)
Bagas : Lu tau nggak kenapa lu hanya koma (Menatap gue).
Edo : Karna lu Jatuh tepat di atas badan laras, Laras itu pendaki yang hilang sejak 3hari yang lalu sebelum kita mendaki, karna lu jatuh timsar akhirnya nemuin jenazahnya Laras (menatap gue).

Tari mengeluarkan Hpnya dan memunjukkan rekaman Vidio saat gue di angkat keluar dari jurang bersamaan dengan jenazah laras nya juga. Entahlah apa yang kualami semuanya seperti nyata.

Gue : Minggu depan kita kebukit itu lagi, gue akan buktiin ke kalian kalau gue nyampai diatas waktu itu.

Hari berjalan, tanpa terasa sudah seminggu berlalu, kami ber 4pun kembali mendaki bukit tersebut, sampai tibalah kami diatas.

Bagas : Gila lu can kok bisa hafal smpai kesini.
Gue : Udah gue bilng gue udah pernah nyampai disini, udah ayo ikut gue (meninggalkan mereka).

Gue mengajak mereka ke sebuah batu besar ternyata dugaan gue benar
Gue : Ni lihat (Menunjuk tulisan nama gue dan laras).

Tari, Bagas dan Edo hanya saling Menatap melihat tulisan itu, sementara gue terpaku melihat laras tersenyum dari kejauhan dan kemudian menghilang.

TAMAT

Create By Hazizah Wulan Pratiwi


Related Posts

Cerita Misteri Sahabat Dari Bukit
4/ 5
Oleh