Semilir angin berhembus sepoi-sepoi menyejukkan ku yang tengah duduk di bangku taman kampus. Sembari kubaca buku mengenai topik materi yang akan kupersentasikan didalam kelas nanti. Sambil sesekali mataku memandang sekitaran taman. Seketika itu pandanganku terhenti pada sosok gadis yang duduk di bangku sebrang taman. Aku memandang gadis itu lama dan berpikir bahwa aku seperti pernah bertemu dia sebelumnya. Tanpa berpikir panjang aku pun berjalan menuju tempat dimana gadis itu duduk.
Dio : selamat siang...(menyapa gadis itu sembari tersenyum).
Lidya : siang...(tersenyum manis).
Dio : boleh aku duduk?
Lidya : oh ya silahkan (menggeser posisi duduk).
Dio : (menatap wajah gadis itu) kamu Lidya kan?
Lidya : iya benar (terheran).
Dio : aku Dio, yang waktu itu nabrak kamu sampai buku kamu terjatuh (menatap mata gadis itu sembari tersenyum).
Lidya : oh ya aku ingat.
Dio : syukurlah kalau kamu ingat (tersenyum malu).
Gadis itu, aku rasa aku menyukainya. Aku begitu gugup saat aku menatap matanya. Wajahnya memang tidak cantik, lebih tepatnya kukatakan "manis". Yah, dia gadis yang memiliki wajah yang tidak membosankan jika dipandang terus-menerus. Dan aku merasa sangat ingin mengenalnya lebih dalam.
Dio : oh ya kamu jurusan apa?
Lidya : kimia.
Dio : wah... bisa buat bom donk! (sembari terkekeh).
Lidya kemungkinan bisa...(tertawa lepas).
Seketika kulihat tawanya yang begitu lepas, oh Tuhan... sangat begitu menawan. Ah membuat jantungku semakin berdebar saja.
Dio : hehe... oh ya aku boleh minta nomor ponselmu?
Lidya : emmm... buat apa?
Dio : buat berteman saja.
Lidya : oh gitu... boleh kok (sembari mengangguk).
Gadis itu lalu memberikan ku nomor ponselnya. Dan hal itu membuatku merasa senang.
Dio : terimakasih ya (tersenyum senang).
Lidya : oke...(balik tersenyum).
Dio : ya sudah kalau begitu aku duluan ya. soalnya aku ada kelas di jam ini (sembari berdiri).
Lidya : iya (tersenyum).
Aku lalu berjalan meninggalkan gadis itu menuju ke kelas dengan perasaan bahagia. Tak pernah sebelumnya aku merasakan gejolak seperti ini.
Seiring berjalannya waktu hubunganku dengan Lidya semakin akrab. Sampai tiba suatu hari aku mengajaknya dinner.
Dio : apa kamu ada waktu nanti malam?
Lidya : memangnya ada apa? (ekspresi heran).
Dio : aku ingin mengajakmu makan malam.
Lidya : emmm... baiklah aku mau (tersipu malu).
Dio : (tersenyum bahagia) syukurlah, aku kira kamu akan menolakku tadi.
Lidya : (hanya tersenyum).
Tibalah aku dan Lidya disebuah restoran. Malam ini gadis itu sangat manis. Dia mengenakan gaun berwarna abu-abu dengan panjang selutut yang aku rasa sangat cocok dengan warna kulitnya yang kuning langsat. Penampilannya malam ini sungguh membuatku terpana. Sedangkan aku mengenakan jas biru dongker dengan dalaman baju kaos berwarna putih dan celana jeans hitam. Yah, bisa dibilang penampilanku keren malam ini. Lalu aku pun membawa gadis itu ketempat yang telah kupersiapkan sebelumnya. Begitu tiba ditempat, gadis itupun terkejut melihat pemandangan disekitar tempat itu. Yah, sebuah meja yang dikelilingi dengan bunga mawar berbentuk hati. Dan diatas meja itu diletakkan beberapa lilin untuk menambah kesan romantisme. Dan tak lupa diletakkan hidangan yang akan kami santap malam ini diatas meja tersebut. Dengan tersungging senyum dibibirnya, gadis itu lalu menatapku lama. Aku bisa melihat pancaran kebahagiaan diwajahnya.
Lidya : Dio, apa maksud ini semua? (memperlihatkan ekspresi yang penuh tanda tanya).
Dio : boleh kupegang tanganmu? (sambil memberikan uluran tangan).
Lidya : (menerima uluran itu).
Lalu kubawa gadis itu ke meja tersebut. Dan kami berdua pun duduk dikursi saling berhadapan.
Dio : apa kamu menyukai ini semua? (menatap mata gadis itu penuh arti).
Lidya : yah aku menyukainya (tersenyum haru).
Dio : apakah kamu mau menjadi kekasihku? (sembari memegang tangan gadis itu).
Lidya : Dio, jangan bercanda (merasa terkejut dan salah tingkah).
Dio : aku serius. aku mencintaimu! (menatap lembut mata gadis itu).
Dio : selamat siang...(menyapa gadis itu sembari tersenyum).
Lidya : siang...(tersenyum manis).
Dio : boleh aku duduk?
Lidya : oh ya silahkan (menggeser posisi duduk).
Dio : (menatap wajah gadis itu) kamu Lidya kan?
Lidya : iya benar (terheran).
Dio : aku Dio, yang waktu itu nabrak kamu sampai buku kamu terjatuh (menatap mata gadis itu sembari tersenyum).
Lidya : oh ya aku ingat.
Dio : syukurlah kalau kamu ingat (tersenyum malu).
Gadis itu, aku rasa aku menyukainya. Aku begitu gugup saat aku menatap matanya. Wajahnya memang tidak cantik, lebih tepatnya kukatakan "manis". Yah, dia gadis yang memiliki wajah yang tidak membosankan jika dipandang terus-menerus. Dan aku merasa sangat ingin mengenalnya lebih dalam.
Dio : oh ya kamu jurusan apa?
Lidya : kimia.
Dio : wah... bisa buat bom donk! (sembari terkekeh).
Lidya kemungkinan bisa...(tertawa lepas).
Seketika kulihat tawanya yang begitu lepas, oh Tuhan... sangat begitu menawan. Ah membuat jantungku semakin berdebar saja.
Dio : hehe... oh ya aku boleh minta nomor ponselmu?
Lidya : emmm... buat apa?
Dio : buat berteman saja.
Lidya : oh gitu... boleh kok (sembari mengangguk).
Gadis itu lalu memberikan ku nomor ponselnya. Dan hal itu membuatku merasa senang.
Dio : terimakasih ya (tersenyum senang).
Lidya : oke...(balik tersenyum).
Dio : ya sudah kalau begitu aku duluan ya. soalnya aku ada kelas di jam ini (sembari berdiri).
Lidya : iya (tersenyum).
Aku lalu berjalan meninggalkan gadis itu menuju ke kelas dengan perasaan bahagia. Tak pernah sebelumnya aku merasakan gejolak seperti ini.
Seiring berjalannya waktu hubunganku dengan Lidya semakin akrab. Sampai tiba suatu hari aku mengajaknya dinner.
Dio : apa kamu ada waktu nanti malam?
Lidya : memangnya ada apa? (ekspresi heran).
Dio : aku ingin mengajakmu makan malam.
Lidya : emmm... baiklah aku mau (tersipu malu).
Dio : (tersenyum bahagia) syukurlah, aku kira kamu akan menolakku tadi.
Lidya : (hanya tersenyum).
Tibalah aku dan Lidya disebuah restoran. Malam ini gadis itu sangat manis. Dia mengenakan gaun berwarna abu-abu dengan panjang selutut yang aku rasa sangat cocok dengan warna kulitnya yang kuning langsat. Penampilannya malam ini sungguh membuatku terpana. Sedangkan aku mengenakan jas biru dongker dengan dalaman baju kaos berwarna putih dan celana jeans hitam. Yah, bisa dibilang penampilanku keren malam ini. Lalu aku pun membawa gadis itu ketempat yang telah kupersiapkan sebelumnya. Begitu tiba ditempat, gadis itupun terkejut melihat pemandangan disekitar tempat itu. Yah, sebuah meja yang dikelilingi dengan bunga mawar berbentuk hati. Dan diatas meja itu diletakkan beberapa lilin untuk menambah kesan romantisme. Dan tak lupa diletakkan hidangan yang akan kami santap malam ini diatas meja tersebut. Dengan tersungging senyum dibibirnya, gadis itu lalu menatapku lama. Aku bisa melihat pancaran kebahagiaan diwajahnya.
Lidya : Dio, apa maksud ini semua? (memperlihatkan ekspresi yang penuh tanda tanya).
Dio : boleh kupegang tanganmu? (sambil memberikan uluran tangan).
Lidya : (menerima uluran itu).
Lalu kubawa gadis itu ke meja tersebut. Dan kami berdua pun duduk dikursi saling berhadapan.
Dio : apa kamu menyukai ini semua? (menatap mata gadis itu penuh arti).
Lidya : yah aku menyukainya (tersenyum haru).
Dio : apakah kamu mau menjadi kekasihku? (sembari memegang tangan gadis itu).
Lidya : Dio, jangan bercanda (merasa terkejut dan salah tingkah).
Dio : aku serius. aku mencintaimu! (menatap lembut mata gadis itu).
Bersambung
Penikmat Darah Part 8
4/
5
Oleh
CERITA HANTU
