Penikmat Darah Part 7

Jam menunjukkan pukul 00.15 malam. Namun mataku masih saja belum bisa terpejam. Kuraih ponselku dan kucoba menghubungi mamaku yang sedang berada di luar negeri. 
"Tut...tut...tut..."

Mama : halo Dio...
Dio      : halo, mama kapan pulang?
Mama : kemungkinan bulan depan, tapi belum pasti juga.
Dio : mama keasyikan disana ya?
sampai lupa sama anak sendiri.
Mama : kamu ini bicara apa sich!
mama disini karna urusan pekerjaan bukan untuk senang-senang. Lagian kamu jadi anak cowok tidak usah manja!
Dio   : mama berubah semenjak mama menikah lagi. yang dulunya mama selalu lembut, perhatian, dan selalu mengkhawatirkan aku. tapi sekarang semua itu sudah tidak mama berikan lagi padaku. Bahkan selama mama diluar negeri sedikitpun mama tidak pernah telpon aku untuk sekedar tanya kabar. aku rasa mama lebih menyayangi suami baru mama itu daripada aku.
Mama : cukup Dio! tidak usah berlebihan kamu. tidak ada yang berubah dari mama. mama sayang sama kamu. ini semua mama lakukan, mama kerja mati-matian buat kamu agar kamu sukses nantinya. mama cuma minta kamu kuliah yang bagus-bagus disana. sampai kamu selesai dan mendapatkan pekerjaan yang layak.
Dio   : sudahlah, percuma menjelaskan sama mama. mama tidak akan mengerti perasaanku. dan masalah kuliahku mama tidak usah khawatir, aku akan menyelesaikannya dan mendapatkan pekerjaan yang layak.
Kuputuskan percakapanku dengan mama ditelpon karna aku merasa kesal. "Sial! karna lelaki itu mama sudah tak pernah lagi memperhatikanku. lihat saja aku akan memberikan perhitungan pada lelaki itu" gumamku.

Hari berganti hari waktu yang telah dijalani pun berlalu. Bahkan kematian yang menimpa Rina telah sepi dibicarakan. Hingga tiba hati ini ada yang mengisi kekosongannya.

Dio : maaf aku tidak sengaja (sambil mengambil buku yang jatuh dilantai).
Lidya : tidak apa-apa aku juga salah tidak lihat jalan.
Dio : ini buku kamu.
Lidya : terimakasih. maaf ya aku buru-buru.
Dio : tunggu. kenalin aku Dio (mengulurkan tangan)
Lidya : Lidya. permisi (berjalan meninggalkan tempat)

Aku merasa terhipnotis pada sosok gadis yang baru saja kutemui itu. Ada sesuatu rasa yang berbeda sejak pertama aku melihatnya. Jantungku berdebar saat menatapnya. Apakah ini yang dinamakan jatuh cinta? ah entahlah... aku bingung. Tapi hasratku terdorong ingin memilikinya.

Kubaringkan tubuhku di sofa sembari memainkan ponsel. Seketika bel rumah berbunyi. "Tingnung... tingnung..." aku pun segera bangkit dan berjalan menuju pintu rumah. Begitu kubuka, betapa terkejutnya aku melihat sosok yang berkunjung kerumahku. "Vira" yah dia satu kelasku dulu sewaktu SMA. Dia gadis yang  tergila-gila padaku. Karna begitu tergila-gila padaku dia sampai mengutarakan perasaannya terhadapku. Tapi aku menolaknya. Karna aku tidak memiliki perasaan padanya.

Vira : hai Dio (tersenyum)
Dio : kamu ada perlu apa kesini? (mengernyitkan kening)
Vira : tarrappp... aku mau masak ini buat kamu (memperlihatkan kantong plastik yang berisi daging dan sayur-mayur).
Ah kebetulan sekali aku memang sedang lapar.
Dio : tapi orangtuaku lagi tidak dirumah. memangnya tidak masalah?
Vira : tidak apa-apa. kitakan tidak berbuat yang macam-macam. kamu pasti belum makankan? (tersenyum menggoda)
Dio : belum sich (senyum terpaksa)
Vira : ya sudah aku akan masak ini buat kamu.
Dio : silahkan masuk.
Vira lalu berjalan masuk kedalam rumahku dan langsung menuju dapur. Sedangkan aku hanya duduk di sofa ruang tamu.
Vira : by the way orangtua kamu kemana? (sibuk mengeluarkan bahan makanan dari kantong plastik).
Dio : ke luar negeri (memainkan ponsel)
Vira : berapa lama?
Dio : kurang lebih sebulan.
Vira : berarti kamu kesepian donk dirumah (sambil mencuci bahan makanan).
Dio : yah begitulah.
Sembari aku asyik dengan ponselku,  tiba-tiba kudengar Vira berteriak sontak membuatku kaget. Aku pun langsung menghampirinya ke dapur.
Dio : ada apa teriak? (terheran)
Vira : tu...tu...tu...lang (sambil jarinya menunjuk kebawah kolong lemari). tadi tomatnya terjatuh dan menggelinding ke kolong itu dan begitu kuambil aku melihatnya.

Aku pun langsung melihat kebawah kolong lemari. Dan aku sedikit kaget karna memang benar ada tulang tangan manusia dibawah kolong tersebut. "Sial! mengapa Fego begitu ceroboh" gumamku dalam hati. Aku pun bangkit dan mendekati Vira yang tengah ketakutan dan wajahnya terlihat pucat.

Dio : apa yang ada dipikiranmu sekarang?
Vira : a..a..pa i..i..tu tangan manusia? (berjalan mundur).
Dio : lantas kalau iya kenapa?
Vira : (merasa terkejut) Dio, a..a..ku lu..lu..pa ka..ka..lau ha..ha..ri i..i..ni a..a..ku a..a..da la..la..tihan ba..ba..llet.
Dio : hahaha... kamu pikir aku percaya dengan semua omong kosongmu itu (sambil mengambil pisau dan mengacungkannya dileher gadis itu).
Vira : Di..di..o, kumohon jangan sakiti aku. aku janji tidak akan memberitahu hal ini kepada siapapun. percaya padaku (sambil menangis).
Dio : tapi sayangnya aku tidak pernah percaya dengan janji manusia (mendekatkan wajah ke wajah gadis itu).
Vira : percaya padaku Dio!
Dio : hahaha... aku rasa tidak ada gunanya membiarkanmu hidup.
Penikmat Darah Part 7
Tiba-tiba tanpa kusadari Vira menyipak keintimanku dengan lututnya. Aku pun berteriak kecil merasakan sakit. Dan kulihat Vira berusaha berlari.
Sontak aku langsung melayangkan pisau yang kupegang kepunggung gadis itu. Dan "ceeeppp" sebuah pisau menancap dipunggung gadis itu. Seketika itu dia pun tak lagi berdaya dan pingsan.

BERSAMBUNG

Related Posts

Penikmat Darah Part 7
4/ 5
Oleh