Kuntilanak Dibelakang Rumahku Part 2

Mendengar cerita mistis dari pak heri serta warga lainnya membuat saya tidak berani untuk keluar rumah dimalam hari, apalagi tepat dibelakang rumah saya lah kebun tempat bu minah gantung diri.
Namun pada malam jum'at tepatnya malam jum'at kliwon, saya disuruh bapak untuk menjemput tante saya yang datang dari jakarta ingin berlibur di desa saya. Awalnya saya menolak karena bapak saya menyuruh menjemput pukul 11 malam.

Saya : Bapak saja lah yang njemput tante!!! Budi takut nih keluar malam-malam gini... kan banyak yang liat penampakan bu minah pak!!!
Bapak : Bapak banyak urusan Bud. Lagian itu kan cuma cerita-cerita aja, kamu belum melihatnya sendiri kan? Jadi jangan percaya hal-hal begituan. Bapak tiap malam keluyuran ya ga liat apa-apa?
Dengan sangat terpaksa saya menuruti kemauan bapak untuk menjemput tante di statiun kereta api yang jaraknya cukup lumayan jauh dari desa saya.

Tepat pukul 11 malam saya stater motor matic ku, tak lupa juga membawa sebungkus rokok untuk mengusir rasa takut. Saat saya akan menjalankan sepeda motorku tiba-tiba terdengar suara teriakan dari tetangga sebelah. Dalam benakku bertanya-tanya "kenapa malam-malam begini ada suara wanita memanggil-manggil saya".

Bu yuni : Mas.. mau kemana!!!!!

Saat saya melihat kearah suara yang memanggil saya ternyata itu adalah suara Bu Yuni istri baru pak tarno. Istri pertamanya adalah Bu Minah yang mati bunuh diri. Bu minah sendiri mempunyai 1 anak wanita bernama Yanti umur 12 tahun yang kini tinggal dengan Bu Yuni, sedang pak tarno sendiri merantau di jakarta sebagai kontraktor sukses.

Saya : Eh... Bu Yuni.... Tak kirain hantu hehehe... Mau njemput tante saya distasiun Bu.
Bu Yuni : Saya ikut ya..... Saya mau ke stasiun juga nih.. mau njemput ponakan juga.....
Saya : Itu Bu Yuni bawa apaan yang ada didalam tas ransel?
Bu Yuni : Ah... ini cemilan buat iseng-iseng ngemil sambil nungguin ponakan kok!!!.

Tanpa rasa curiga saya pun langsung tancap gas menuju stasiun sambil memboncengkan Bu Yuni.
Adanya Bu Yuni yang ikut numpang ke stasiun membuat kekhawatiran saya akan kemunculan hantu Bu Minah menjadi berkurang. Setidaknya ada teman ngobrol sepanjang perjalanan.

Sesampainya di stasiun, Bu Yuni langsung pamit entah kemana. Saya pun tidak menghiraukan Bu Yuni karena fokus mencari keberadaan tante saya yang belum kelihatan batang hidungnya.
Setelah menunggu satu jam belum juga terlihat tanda-tanda keberadaan tante saya, saat saya sedang gelisah menunggu tiba-tiba terdengar suara whatsapp masuk. Saat kubuka ternyata terdapat pesan dari tante saya yang isinya mengabarkan kalau pas kereta api berhenti distatiun katanya dia ketiduran jadi tidak sempat turun dan sekarang tante saya masih didalam kereta yang tujuan akhirnya di surabaya. Tante berpesan untuk pulang saja.

Muka saya yang awalnya ceria, kini tiba-tiba menjadi pucat karena disuruh pulang saja oleh tante. Itu berarti saya harus pulang sendirian ke desa saya yang sedang diteror hantu Bu Minah.
Saya sendiri termasuk penakut, saya berfikir untuk menginap saja distasiun tapi takut ditungguin bapak di rumah. Mau ngabarin bapak dirumah tetapi bapak saya tidak punya ponsel.

Dengan terpaksa saya beranikan diri untuk pulang sendiri meski rasa takut sudah menyelimuti perasaanku. Saat memasukki desa saya, suasana desa saya benar-benar sangat sepi sekali, tak terlihat seorangpun yang keluar rumah. Apalagi sekarang sudah pukul satu dini hari, jam-jam dimana orang-orang sudah tertidur pulas.

Untuk mengusir rasa takut, saya berhenti untuk menyalakan sebatang rokok, kuhisap asap rokok dalam-dalam dan saat saya akan menjalankan kembali motor saya, tiba-tiba terdengar suara teriakan wanita yang meminta tolong.

Mendengar suara minta tolong membuat bulu kuduk saya langsung berdiri, ada perasaan takut namun ada perasaan penasaran dengan suara itu. Saya mencoba mencari sumber suara itu, saya yakin suara itu bukanlah suara bu minah karena terdengar seperti suara wanita muda.

Saat saya sedang mencoba berkeliling mencari sumber suara, tiba-tiba saya melihat sesosok wanita sedang duduk dibawah pohon sambil tangan kanannya memegang lehernya dan tangan kiri memegang perutnya.

Dengan rasa takut dan penasaran, saya mencoba mendekat ke sosok wanita itu. Saat saya sudah sangat dekat dengan sosok itu ternyata wanita itu adalah anaknya Bu Minah yang bernama Yanti.

Saya : Yanti!!!!!!!! (terkejut). Kenapa kamu disini?
Yanti diam saja tak menjawab, dia terus merintih menahan sakit sambil memegang leher dan perutnya.
Saya : Perut dan leher kamu kenapa Yan???
Kuntilanak Dibelakang Rumahku Part 2

Lagi-lagi tak ada sahutan dari Yanti. Yanti hanya menoleh kearah saya dan saat Yanti menjauhkan tangan dari perutnya tiba-tiba darah mengalir deras dari perutnya. Sontak saja, kejadian tersebut membuat saya panik. Saya mencoba melepaskan jaket saya untuk menutup darah yang mengalir. Tapi saat saya sedang mencoba melepas jaket, Yanti malah tertawa cekikikan dan saya melihat dengan mata kepala saya sendiri kepala Yanti jatuh ketanah saat tangan Yanti melepas pegangan di lehernya.

Saya : Ss....ssee....ssseeett... seettaannnnnnnnnnnnnnnnnnnn.
Tanpa Ba..Bi...Bu..lagi, saya langsung berlari meninggalkan Yanti dan sepeda motor saya sambil terus berteriak setan, setan, setan meski tak ada seorangpun yang mendengar.

BERSAMBUNG

Related Posts

Kuntilanak Dibelakang Rumahku Part 2
4/ 5
Oleh